
Gen Z adalah mereka yang lahir antara akhir 1990-an hingga awal 2010-an. Mereka tumbuh besar dengan menggunakan ponsel pintar dan aplikasi perpesanan setiap hari.
Komunikasi online dan offline menyatu dalam rutinitas harian yang sama bagi Generasi Z. Obrolan grup, unggahan, pesan suara, dan panggilan video digunakan berdampingan. Blog ini membahas bagaimana Generasi Z berkomunikasi secara online dan pola di balik kebiasaan berkirim pesan mereka.
1. Komunikasi dengan tekanan rendah terasa normal
Balasan bukanlah komitmen untuk langsung berbicara. Pesan yang dikirim hari ini mungkin mendapat balasan besok, dan percakapan berlanjut dari tempat terakhir berhenti. Berada online tidak berarti selalu siap untuk membalas secara instan. Orang-orang beralih antar aplikasi sambil membiarkan pesan-pesan yang belum terbalas tetap berada di latar belakang.
Kecepatan membalas pesan tidak dianggap sebagai aturan sosial. Jeda panjang antar pesan adalah hal biasa, dan percakapan biasanya berlanjut tanpa penjelasan. Pesan biasanya singkat dan informal.
2. Lebih terbuka buat kenalan sama orang asing secara online
Gen Z lebih terbuka untuk menjalin pertemanan internasional secara online dan terhubung dengan orang-orang dari berbagai wilayah dan latar belakang.
Minat yang sama menggantikan perkenalan formal. Sama seperti Voice Room di imo — cara gampang buat ketemu orang baru dari seluruh dunia berdasarkan vibe atau hobi yang sama. Orang-orang bergabung, berbicara, bereaksi, dan pergi tanpa perlu alasan yang jelas untuk tetap tinggal. Sebagian besar interaksi hanya berlangsung singkat, dan koneksi mungkin berakhir dengan sesi tersebut atau beralih ke obrolan pribadi jika terasa alami. Berbicara dengan orang asing lebih mudah karena risikonya rendah; karena Anda tidak perlu melanjutkan percakapan, tidak ada tekanan untuk tetap tinggal.
3. Ghosting (menghilang tanpa kabar) adalah hal yang umum terjadi dalam obrolan santai.
Obrolan bisa aktif untuk sementara waktu lalu tiba -tiba berhenti, tanpa pesan terakhir. Obrolan sebenarnya tidak lagi memiliki ucapan "selamat tinggal". Alih-alih penutup formal, percakapan hanya berhenti ketika topik habis. Obrolan tetap terbuka di latar belakang, sehingga lain kali seseorang ingin mengatakan sesuatu, mereka hanya mulai berbicara lagi tanpa perlu basa-basi "hai, sudah lama nggak ngobrol ya."
4. Reaksi sering kali menggantikan percakapan lengkap.
Saat ini, banyak komunikasi terjadi melalui reaksi seperti emoji, balasan singkat, meme, atau "like". Sebuah meme seringkali merupakan keseluruhan respons. Alih-alih balasan panjang, orang sering merespons dengan emoji atau klip pendek. Banyak pengguna Gen Z membuat atau mengedit ulang meme mereka sendiri, seringkali menggunakan klip dari kreator online, film, atau video pendek. Jika Anda menggunakan imo, Anda dapat dengan mudah mengubah foto menjadi stiker khusus untuk membuat respons Anda terasa lebih unik.
Beberapa referensi ini hanya masuk akal jika Anda terbiasa dengan budaya internet, itulah sebabnya generasi yang lebih tua mungkin tidak sepenuhnya memahaminya . Mengapa menjelaskan suatu perasaan jika Anda bisa menunjukkannya saja? Orang lebih suka visual yang sudah mewakili perasaan mereka, karena ngetik teks terasa lebih ribet dan kurang pas.
5. Definisi pertemanan biasanya nggak terlalu saklek
Dalam komunikasi Generasi Z , persahabatan jarang didefinisikan secara ketat. Orang tidak selalu memisahkan orang lain menjadi "teman dekat" atau "sekadar teman" dengan cara yang jelas.
Seseorang bisa berhenti berbicara selama berminggu-minggu dan kemudian melanjutkan percakapan yang sama tanpa merasa canggung. Biasanya tidak perlu menjelaskan jeda tersebut atau mengatur ulang hubungan.
Dalam obrolan grup, pola yang sama muncul. Beberapa orang aktif setiap hari, sementara yang lain tetap diam untuk waktu yang lama tetapi tetap menjadi bagian dari grup.
Partisipasi tidak diwajibkan untuk mempertahankan hubungan. Kehadiran sesekali seringkali sudah cukup agar hubungan tetap berlanjut.
6. Berbagi antar platform adalah hal yang umum.
Pengguna Generasi Z jarang hanya menggunakan satu platform. Orang yang sama sering menggunakan aplikasi seperti Facebook, Instagram, dan TikTok secara bersamaan.
Platform yang berbeda digunakan untuk jenis konten yang berbeda. Video pendek, pembaruan harian, cerita pribadi, dan obrolan grup sering kali dibagi di berbagai aplikasi daripada tetap berada di satu tempat.
Momen yang sama dapat dibagikan dalam format yang berbeda tergantung pada platformnya. Klip pendek di TikTok, foto di Instagram, dan pesan pribadi di grup obrolan semuanya bisa berasal dari peristiwa yang sama.
Untuk mengikuti perkembangan seseorang, Anda seringkali perlu melihatnya di berbagai platform, bukan hanya satu.
7. Pesan teks seringkali lebih disukai daripada panggilan telepon atau video.
Dalam komunikasi satu lawan satu, banyak pengguna Generasi Z lebih menyukai pesan teks daripada panggilan telepon atau obrolan video.
Panggilan telepon terasa seperti gangguan, sedangkan mengirim pesan teks terasa seperti sebuah pilihan. Panggilan telepon menuntut perhatian Anda saat itu juga, yang terasa mengganggu. Mengirim pesan teks lebih disukai karena memungkinkan Anda untuk memikirkan apa yang ingin dikatakan dan membalas kapan pun Anda benar-benar siap untuk berbicara. Situasi "cuma di-read tapi nggak dibalas" dan "dry texting" juga jauh lebih sering terjadi dalam jenis komunikasi seperti ini.
Panggilan telepon seringkali hanya digunakan bila diperlukan, seperti untuk situasi mendesak atau ketika pesan teks tidak cukup. Sebagian besar komunikasi sehari-hari tetap dalam bentuk teks.
8. Gaya komunikasi berubah di berbagai obrolan
Pengguna Gen Z sering menyesuaikan cara bicara mereka tergantung pada siapa yang mereka ajak mengobrol.
Orang yang sama mungkin menggunakan nada, bahasa, dan perilaku yang berbeda di berbagai percakapan. Dalam satu obrolan, mereka mungkin menggunakan meme dan bahasa gaul. Di obrolan lain, mereka mungkin menulis lebih jelas dan menghindari ungkapan informal. Itu tergantung pada konteks, hubungan, dan platformnya.
Sebagai contoh, obrolan grup dengan teman dekat mungkin mencakup lelucon internal dan balasan cepat, sementara obrolan yang lebih formal tetap sederhana dan terkendali. Alih-alih memiliki satu gaya komunikasi tetap, pengguna beralih antar gaya berdasarkan situasi.
Mengapa pola-pola ini muncul bersamaan?
Sebagian besar komunikasi Generasi Z terjadi melalui ponsel pintar di mana beberapa aplikasi berjalan secara bersamaan. Pesan bersaing dengan video pendek, unggahan, dan notifikasi, sehingga balasan sering tertunda atau terlewatkan.
Chatting itu sifatnya santai (asinkron), jadi nggak perlu harus dibalas detik itu juga. Pengguna biasanya berada dalam beberapa obrolan sekaligus. Menjaga agar semuanya tetap aktif bukanlah hal yang praktis, sehingga balasan yang lebih singkat, reaksi, atau tidak membalas sama sekali menjadi hal yang umum.
Fitur aplikasi juga membentuk perilaku. Fitur kayak laporan dibaca (read receipts), indikator mengetik, dan reaksi emoji bikin kita lebih gampang kasih respon cepat. Sebuah pesan, unggahan, dan video pendek dapat menggantikan bagian dari percakapan, sehingga komunikasi tidak lagi bergantung pada satu utas obrolan saja.
Kesimpulan
Pola-pola ini bukanlah aturan, melainkan cara komunikasi alami bekerja secara online saat ini. Pesan tidak selalu membutuhkan balasan cepat, dan percakapan tidak selalu membutuhkan kesimpulan yang jelas.
Jika Anda mendekatinya dengan tekanan yang lebih sedikit, akan lebih mudah untuk berkomunikasi dengan cara yang sama seperti Generasi Z—ringan, fleksibel, dan berkelanjutan.