Cara Deteksi Deepfake di Video Call: 5 Tes Real-Time

Cara Deteksi Deepfake di Video Call: 5 Tes Real-Time

Tue Jun 02 2026

Dual-monitor setup showing scraped social media photos on the left and a 3D facial wireframe mesh on the right, illustrating AI deepfake data training.

Melihat wajah seseorang di panggilan video dulu sudah terasa cukup sebagai bukti bahwa Anda benar-benar sedang berbicara dengan orang tersebut. Jika ibu, atasan, atau teman menelepon lewat video, Anda hampir tidak pernah meragukannya. Namun dengan maraknya ai video call scam, anggapan itu kini tidak lagi aman.

Pelaku penipuan sekarang menggunakan perangkat lunak AI real-time untuk menumpangkan wajah orang lain di atas wajah mereka sendiri selama panggilan berlangsung. Pada 2024, seorang staf keuangan di Hong Kong mentransfer US$25 juta setelah melakukan panggilan video dengan deepfake yang menyamar sebagai CFO perusahaannya, menurut keterangan kepolisian Hong Kong. Seiring alat-alat ini makin mudah diakses, kemampuan membedakan apakah panggilan video itu asli atau tidak menjadi keterampilan keamanan dasar.

Bahkan dengan perangkat keras yang kuat, alat AI ini masih kesulitan memproses video secara langsung. Berikut 5 pengujian sederhana yang dapat Anda lakukan saat panggilan berlangsung untuk mendeteksi kemungkinan deepfake.

Bagaimana Cara Kerja Deepfake pada Panggilan Video Langsung?

Panggilan deepfake secara langsung biasanya melalui beberapa tahapan yang menggabungkan pengumpulan data, pemrosesan real-time, dan rekayasa perangkat keras.

1.  Pengumpulan Data dan Pelatihan Target

Pelaku mengunduh foto atau video publik dari target (seperti kerabat atau manajer perusahaan) dari media sosial. File-file ini digunakan untuk melatih AI agar dapat mengenali wajah target dari berbagai sudut. Mereka juga mengumpulkan potongan suara pendek yang kemudian dipakai untuk membuat tiruan suara target selama panggilan.

2. Pelacakan Wajah dan Ekspresi Secara Real-Time

Saat panggilan berlangsung, pelaku duduk di depan webcam mereka sendiri. Perangkat lunak AI secara real-time melacak wajah pelaku, memetakan titik-titik kunci di area mata, hidung, dan mulut untuk menangkap setiap kedipan dan gerakan bibir. Pada saat yang sama, AI menyesuaikan nada dan tempo bicara secara langsung agar menyerupai gaya bicara target.

3. Penggantian Wajah Instan dengan AI (Render)

Ketika pelaku berbicara, GPU memproses video secara real-time. Algoritme AI langsung mengambil ekspresi dan gerakan mulut pelaku dan memproyeksikan wajah target di atasnya. Proses “penjahitan” (stitching) ini terjadi per frame, biasanya pada 30 frame per detik, untuk menghasilkan topeng video langsung yang tampak terus menerus.

4. Penyaluran Melalui Virtual Camera

Agar video palsu ini bisa masuk ke aplikasi, pelaku menggunakan driver “Virtual Camera”. Perangkat lunak ini membuat ponsel atau komputer seolah-olah mendeteksi webcam sungguhan, padahal yang sebenarnya dikirim ke layar panggilan Anda adalah wajah palsu buatan AI.

5 Tes Real-Time untuk Mendeteksi Deepfake di Panggilan Video

1. Minta Berputar ke Samping 90 Derajat

Kebanyakan perangkat lunak face-swapping AI mengandalkan data wajah target yang jelas, yang umumnya diambil dari foto publik dan video dengan posisi wajah menghadap ke depan. Algoritme memetakan titik-titik penting seperti mata, hidung, dan mulut.

Gerakan kepala yang besar dapat menampilkan artefak visual yang sulit terlihat ketika subjek menatap kamera langsung. Minta penelepon untuk menoleh penuh ke kiri atau ke kanan. Perhatikan apakah ada distorsi di tepi wajah, tarikan tidak wajar di area pipi, atau gangguan gambar singkat saat kepala bergerak.

2. Tes Halangan Tangan

Meskipun model AI modern kini lebih baik dalam menangani bagian wajah yang tertutup, gerakan tangan yang tiba-tiba masih dapat menimbulkan ketidaksesuaian visual di beberapa sistem face-swapping real-time. Mintalah penelepon melambaikan tangan dengan cepat melewati wajah mereka atau menutup salah satu mata. Amati apakah muncul efek bayangan ganda (ghosting), blur sesaat, atau tepian yang tidak alami di sekitar jari saat bergerak cepat.

3. Tes Perubahan Pencahayaan

Jika penelepon menggunakan ponsel, minta mereka menyalakan flashlight ponsel dan mengarahkannya ke wajah, atau berjalan mendekati jendela. Pada panggilan asli, bayangan di hidung dan garis rahang akan berubah seketika mengikuti arah cahaya. Jika pencahayaan di wajah tampak tidak selaras dengan kondisi ruangan, maka Anda harus waspada.

4. Perhatikan Kedipan dan Cacat Fisiologis

Amati dengan saksama seberapa sering orang tersebut berkedip dan ke mana arah pandang mereka. Perhatikan apakah pergerakan mata mengikuti gerakan kepala secara alami, dan cek area rahang, telinga, garis rambut, serta leher, karena di sanalah ketidaksempurnaan proses blending sering muncul.

5. Periksa Sinkronisasi Audio dan Gerak Bibir

Panggilan video secara langsung membutuhkan bandwidth yang besar, dan penggunaan alat face-swapping AI menambah lapisan pemrosesan data baru. Pemrosesan tambahan ini menimbulkan jeda.

Ajukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban cukup panjang, bukan sekadar “ya” atau “tidak”. Perhatikan mulut penelepon dengan detail. Jika gerakan bibir secara konsisten tertinggal dari suara atau tidak sesuai dengan kata-kata yang diucapkan, panggilan tersebut perlu diwaspadai.

Tidak ada satu pun tes yang dapat memastikan deepfake secara mutlak, namun bila beberapa gejala muncul sekaligus, kecurigaan harus meningkat.

Mengapa Deepfake Langsung Sering Gagal Secara Real-Time

Untuk memahami video call deepfake detection, Anda perlu memahami beban kerja yang ditimbulkan sistem ini pada komputer. Selama siaran langsung, perangkat lunak harus menangkap wajah pelaku, mengubahnya agar menyerupai orang yang dikenal korban, lalu memprosesnya kembali ke video pada 30 frame per detik.

Proses ini tidak memberi ruang untuk pengeditan pascaproduksi. Dalam video deepfake yang direkam sebelumnya, pembuatnya dapat menghabiskan waktu berhari-hari memperbaiki gangguan frame demi frame. Dalam panggilan langsung, perangkat lunak harus mengambil keputusan secara instan. Koneksi internet buruk, jitter jaringan, dan packet loss membuat AI makin sulit mempertahankan topeng yang sempurna. Itulah mengapa tes fisik sederhana seperti menoleh atau melambaikan tangan sering kali mampu mematahkan ilusi.

Trik "Putus 10 Detik"

Pelaku penipuan paham bahwa semakin lama deepfake berjalan secara live, semakin besar kemungkinan terjadi glitch. Untuk mengurangi risiko terbongkar, mereka sering mengombinasikan panggilan video dengan pesan teks lanjutan.

Anda menerima panggilan video di aplikasi pesan. Anda menjawab, dan melihat wajah teman Anda. Mereka tampak panik dan berkata dengan suara tiruan: “Hei, aku sedang kena masalah, aku baru saja mengalami—”

Kemudian panggilan tiba-tiba terputus. Bagi Anda, itu tampak seperti gangguan jaringan biasa.

Beberapa detik kemudian, sebuah pesan teks masuk dari akun yang sama: “Sinyal di sini jelek. Baterai juga hampir habis. Aku butuh uang darurat untuk uang muka rumah sakit sekarang. Tolong transfer ke rekening ini.”

Dengan memalsukan panggilan terputus, mereka menghindari risiko kelemahan video AI terlihat secara real-time. Jika panggilan video terputus dan segera diikuti permintaan uang, anggap hal tersebut sangat mencurigakan. Akhiri dan hubungi kembali lewat panggilan seluler biasa untuk memastikan.

Pengaruh Aplikasi Panggilan Video terhadap Keamanan

Aplikasi yang Anda gunakan juga memengaruhi seberapa mudah penipuan ini terdeteksi. Beberapa aplikasi pesan sangat mengompresi data video untuk menghemat biaya server. Kompresi tinggi akan menghasilkan gambar buram dan berpiksel. Ironisnya, kualitas rendah ini justru menguntungkan pelaku, karena resolusi yang jelek menyamarkan robekan piksel, perbedaan warna kulit, dan artefak digital yang disebabkan oleh alat AI.

Itulah mengapa kejernihan video sangat penting. Sebagai contoh, di imo, aliran video tetap jernih dan tajam bahkan jika koneksi Anda lemah. Ketika kualitas video tetap jelas, Anda lebih mudah melihat tatapan kosong, gerakan bibir yang kaku, atau distorsi di tepi wajah yang mengungkap penggunaan masker deepfake. Mendeteksi deepfake hanyalah salah satu bagian dari tetap aman saat online; memahami tips keamanan untuk panggilan video dengan orang asing juga sama pentingnya.

FAQs

Untuk apa biasanya deepfake video call scam digunakan?

Hampir selalu untuk mencuri uang Anda, terutama dalam romance scams (atau "pig butchering"). Pelaku membangun kepercayaan secara online, lalu menggunakan panggilan video deepfake singkat untuk “membuktikan” bahwa mereka orang asli sebelum meminta uang tunai atau kripto. Mereka juga memakai trik ini untuk menyamar sebagai atasan atau kerabat yang meminta transfer darurat.

Apakah deepfake bisa dibuat langsung di ponsel?

Aplikasi face-swapping sederhana memang bisa berjalan di ponsel, tetapi kualitasnya sangat rendah. Penipuan tingkat tinggi umumnya membutuhkan komputer desktop yang kuat untuk merender masker AI secara mulus, yang kemudian dialirkan ke aplikasi mobile melalui pengaturan virtual camera.

Apakah ada alat otomatis untuk mendeteksi deepfake selama panggilan?

Perusahaan keamanan sedang mengembangkan alat deteksi otomatis, tetapi belum tersedia secara luas di aplikasi konsumen. Untuk saat ini, bergantung pada tes perilaku seperti permintaan menoleh ke samping masih menjadi pilihan terbaik.

Sumber:

https://vsquare.org/when-your-clone-calls-how-ai-voice-fraud-became-a-billion-dollar-industry/

https://www.ncoa.org/article/understanding-deepfakes-what-older-adults-need-to-know/

https://seniors.hcsk.org/ai-powered-scams-targeting-seniors/ai-deepfake-video-scams-targeting-seniors/